Sabtu, 05 November 2016

Review Hiding My Heart by Fakhrul Hakim

Welcome November.. Keep up good things dear!

            Awal November dengan semangat menulis yang makin menggebu-gebu nih. Ini review novel pertama Hicedream dear.  Okay, kali ini novel yang bakal aku review secara panjang lebar (I’ve spent three days to finish this review) adalah salah satu karya  Mas Fakhrul berjudul “Hiding My Heart”.  Okay, Lets start this review.


            





            Pada sampul depan tampak sebuah rumah pohon yang masih misterius karena judulnya yang nggak ada kata pohonnya. Mungkin aku gak akan penasaran kalo judulnya House of my Heart hehe. Lanjut.. Pada sampul bagian belakang terdapat deskripsi novel. Isinya sangat menarik. Mungkin ini yang menyebabkan pembaca atau calon pembeli gak bisa menahan hasrat untuk membaca, sama seperti yang kurasakan. Berikut deskripsinya:

Kita sudah sebelas tahun bersahabat. Kau pergi ke London, meninggalkanku berkawan sepi di rumah pohon.
Tapi aku percaya kau akan kembali. Tanpa kuduga hari itu datang, kau masih embun yang utuh untukku. Hanya kau yang mampu menyentuh kalbuku dengan racikan masakanmu serta seulas senyum pengertian.
Hari-hari Lara sempat hampa sejak Abe pindah ke London lima tahun yang lalu.Sampai akhirnya pagi itu tiba-tiba Abe sudah berdiri di depan rumah Lara. Semua impian lara kini akan menjadi nyata. Walau dia menyadari keluarganya tak menyukai hubungannya dengan Abe. Belum lagi papanya yang sudah menjodohkan Lara dengan Abe.
Lara punya banyak rahasia agar hati Abe tak terluka. Tapi bagaimana jika salah satu rahasia itu akhirnya mengancam hidup Lara untuk selamanya?

Novel yang terdiri dari 195 halaman ini habis kulahap dalam sehari. Kebetulan weekend yang memang kupersiapkan khusus untuk mereview novel ini. Sesuai dengan deskripsi novel, secuil perasan Lara dan Abe ditunjukkan begitu apik. Lalu bagaimana sebenarnya jalan cerita mereka? Mengapa ada gambar rumah pohon pada sampul novel?

Novel Ini mengisahkan perasaan terpendam dua insan muda yang sudah bersahabat sedari kecil. Tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama (Latar ceritanya di Malang nih), mengetahui tabiat, kebiasaan hingga detil kecil satu sama lain membuat  perasaan cinta itu bersemi di antara mereka. Spesialnya, ada satu hal yang selalu mempertemukann mereka. Hal ini juga yang seolah menjadi cupid diam-diam dalam perasaan mereka masing-masing. Yah, itulah si misterius yang kita bicarakan di awal tadi. Rumah Pohon.

Andriana Larasati alias Lara digambarkan sebagai gadis yang cerewet, mandiri dan tegar. Sahabat kecil Lara, Abe. Nama lengkapnya Abraham wijaya Tyson. Dimulai ketika mereka menjadi tetangga, lalu teman sepermainan, hingga suatu saat mereka sepakat mewujudkan mimpi mereka untuk membuat sebuah rumah pohon di halaman belakang rumah Lara. Ada satu hal menggelitik  tentang rumah pohon ini. Aku sendiri tak bisa lupa ketika mereka memutuskan untuk menamai si rumah pohon “JONO”. Aku fikir mereka akan menamai Callista atau Hommie, ternyata malah JONO. Mengapa JONO? Ternyata dinamakan Jono karena Abe sering mengatakan NO untuk melarang siapapun menaiki rumah pohon sedangkan Lara sering mengatakan Ojo dalam bahasa jawa yang artinya tidak dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, persahabatan mereka kurang disukai oleh Ayah Lara. Meskipun begitu, Lara bersyukur Ibunya masih menyukai Abe. Namun apa yang disyukuri Lara itu tidak bertahan lama..

Ibu Lara meninggal dunia karena penyakit kanker rahim yang dideritanya. Belum selesai duka yang ditanggung oleh Lara, kesedihan yang dirasakan bertambah ketika Ayah Lara memutuskan untuk menikah dengan wanita yang kemudian disebutnya Mama Rika. Masalahnya adalah Mama Rika bukan sosok ibu tiri yang baik dari awal. Mama Rika berusaha memisahkan lara dengan ayahnya sejauh mungkin. Meskipun ayahnya menginginkan Lara untuk ikut tinggal di rumah baru mereka, Lara memilih untuk tinggal di rumah lama Ibunya. Rumah yang berisikan jutaan memori yang tak bisa binasa. Memori tentan masa kecilnya, Ibunya dan tentu saja Abe.

Selain itu,  ada hal menjengkelkan setiap Lara sesekali menginap di rumah baru ayahnya yaitu adik manja yang lahir dari rahim ibu tirinya itu. Belum lagi sikap Mama Rika yang sengaja memanjakan adik tiri Lara dan menyuruh Lara menuruti segala permintaannya. Lucunya, Lara memilih hanya memaki adik tirinya dalam hati dengan sebutan babi karena kebiasaan makannya yang super rakus dan tentu saja tubuh tambunnya haha. Lara sabar banget deh salut! sBiasanya udah ada adegan jambak menjambak atau lempar-lemparan sapu kan? Hehe

            Kesedihan yang dialami oleh Lara mencapai puncaknya ketika Abe sekeluarga memutuskan untuk pindah ke London karena pekerjaan ayahnya. Saat itulah, Lara merasakan kehilangan terbesar dalam hidupnya. Ibu kandungnya, Ayahnya, hingga Abe meninggalkan dirinya sendiri berteman sepi. Hanya rumah pohon yang setia tinggal menemani harinya. Semuanya berlalu begitu cepat. Lara kini menjadi seorang wanita karier yang sukses. Ia bekerja di salah satu perusahaan yang cukup besar. Bagaimana bisa kita tidak menganggapnya mandiri dan tegar?

“Sebenarnya cerita ini dibuat twist yang super seru oleh penulis, Kalo aku ceritanya gak seru maaf saja ya!  Makanya kalian harus baca novel ini supaya bisa ngerasain sensasinya, okay?”

Secara tiba-tiba, seseorang yang dirindukan Lara hadir di depan matanya. Bagaikan hadiah dadakan dari Tuhan. Kalian tau apa?

Abe kembali.

Abe yang sudah mulai dewasa serta penggambaran jelas tentang fisiknya yang ganteng dan makin oke. Duh, bikin ikut jatuh cinta.

Apa yang membuat aku super kaget adalah Lara berusia 23 tahun sedangkan Abe masih 19 tahun guys! Wow, aku fikir mereka seumuran hehe. Lara diceritakan sudah bekerja sementara Abe masih akan melanjutkan studi ke Universitas. But still, it’s sweet!

Setelah Abe kembali dari Londin, hari-hari Lara kembali berwarna. Abe menjadi tempatnya bersandar dan melepas lelah. Perhatian Abe yang dirindukan Lara sekian lama dapat direngkuhnya kembali. Masakan Abe yang super nikmat (Secara Abe calon koki sekaligus anak koki) melengkapi hari Lara yang biasanya berteman mie instan dan bon cabe. Eeits.. maksudnya makanan instan. Catet ya, Lara Cuma bisa masak air.

Lega ya?Jangan dulu. Ini baru awal cerita sebenarnya..

Dari sekian kebahagian bertubi yang diperolehnya setelah kemunculan Abe, banyak pula kesedihan yang mengganjar hidupnya. Namun Ia Lara, wanita tegar yang sudah mengecap pahit hidup sejak kecil. Ia pasti bisa melalui semuanya.

Tak lama setelah itu, Lara dikejutkan dengan berita pernikahan pacarnya dengan sahabatnya sendiri. Pacarnya yang mengaku sudah memutuskan Lara lewat sms  membuat Lara cukup terpukul. Masalahnya, sms itu sama sekali tak pernah diterimanya karena terkirim ke nomer di hp Lara yang hilang. Alhasil, Lara merasa patah. Namun tak dapat dipungkiri, perasaan yang sekadar pelarian pada calon suami sahabtnya itu sedikit membuatnya merasa bersalah. Yah, hubungan itu hanyalah pelarian dari cinta tak tersampai Lara pada Abe. Mengharu biru.

Ketika Lara akan  menghadiri pernikahan sahabatnya itu, terjadi insiden yang mempertemukannya dengan seorang lelaki tampan. Ia adalah manager hotel tempat pernikahan itu berlangsung. Lelaki baik, sopan, tampan, kaya. Meski sempat dekat dengan lelaki bernama Galih itu, tetapi perasaan Lara tetap untuk abe seorang.

Namun semuanya berbeda, setelah perjodohan  itu kembali menyeret perasaan Lara..

Ayah Lara menjodohkan Lara dengan putera sahabatnya. Namun Lara bersikeras menolak perjodohan itu hingga muncul ide aneh untuk berpura-pura sedang dalam hubungan dengan laki-laki lain. Parahnya, Lara mengenalkan laki-laki itu dalam situasi darurat (Biasalah Ayahnya maksa Lara gitu) kepada ayahnya dan Mama Rika. Begitu pula Galih yang meminta Llara juga berpura-pura menjadi kekasihnya untuk menghindari perjodohan yang direncanakan orang tuanya. Unfortunately, ternyata Lara dan Galih sebenarnya adalah kedua insan dalam satu perjodohan yang dirancang kedua orang tua mereka. Ini membuat situasi menjadi kacau sampai pertemuan keluarga yang membahas mengenai pernikahan mereka. Lalu, bagaimana dengan Abe?

Belum selesai masalah ini, Lara kembali dirundung pilu. Hasil tes kesehatan menyatakan bahwa Ia positif mengidap kanker payudara stadium II. Shock yang dialaminya membuat kesehatan Lara semakin memburuk. Belum lagi Ia tak bisa menceritakan penyakit yang dideritanya kepada siapapun, hanya Dokter yang terus mengingatkan Lara untuk melakukan operasi. Lara semakin sedih ketika Ia mengingat mendiang Ibunya. Seandainya beliau masih hidup, mungkin Lara tak akan sesedih ini.

            Suatu ketika, Lara pingsan dan ditolong oleh Galih. Namun saat itu, Abe yang sedang bersama Lara juga pingsan. Hal mengejutkan ternyata dokter yang menangani Lara adalah kakak kandung Galih sehingga Galih mengetahui penyakit Lara sejak itu. Begitu pula dengan ayah Lara yang tak kalah terpukul. Penyesalan Ayah Lara begitu besar, mengingat betapa tidak pedulinya Ia dengan Lara yang hidup sendiri. Sebelumnya Lara tak diberitahu Abe bahwa Ayah Abe sudah meninggal karena kanker otak sebelum Abe dan Ibunya kembali ke Indonesia. Ibu Abe sepertinya sudah merasakan penyakit yang diderita Abe sebelumnya. Namun kenyataan bahwa Abe menderita penyakit Creutzfeldt-Jakob atau penyakit Prion yang belum ditemukan pengobatannya menyayat dalam-dalam hati Ibu Abe. Tentu saja, Ibu mana yang tak sedih melihat buah hatinya sakit.

Semua kesedihan makin menjadi di titik ini.. Bagaimana kelanjutan kisah Abe dan Lara?
           

Lara adalah aku. Perasaan yang tergambar jelas membuatku tenggelam dalam ilusi sebagai Lara. Kebahagiaan dan kesedihan yang dirasakan Lara seolah turut kurasakan. Belum lagi ending yang tak terduga. Tak banyak buku yang memberi sad ending namun sangat pas seperti ini. That’s why I called this book is amazing!

            Bahasa yang digunakan oleh penulis cukup santai dan umum. Plot yang sangat menarik menurutku menjadi poin utama dan plus plus. Ide ceritanya juga segar dan menarik. Menurutku kata puitisnya mesti ditambah nih hehe. Maklum aku penyuka novel yang banyak kata-kata puitis gitu. Kalo kalian ada saran bisa comment dibawah ya.



“Kau, Pagi yang membuatku candu..”
-Lara


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar