Welcome November.. Keep
up good things dear!
Awal November dengan semangat menulis yang makin
menggebu-gebu nih. Ini review novel pertama Hicedream dear. Okay, kali ini novel yang bakal aku review secara panjang lebar (I’ve
spent three days to finish this review) adalah salah satu karya Mas
Fakhrul berjudul “Hiding My Heart”. Okay, Lets
start this review.
Pada sampul depan tampak sebuah rumah pohon yang masih
misterius karena judulnya yang nggak ada kata pohonnya. Mungkin aku gak akan
penasaran kalo judulnya House of my Heart hehe. Lanjut.. Pada sampul bagian
belakang terdapat deskripsi novel. Isinya sangat menarik. Mungkin ini yang
menyebabkan pembaca atau calon pembeli gak bisa menahan hasrat untuk membaca,
sama seperti yang kurasakan. Berikut deskripsinya:
Kita sudah sebelas tahun bersahabat. Kau pergi ke
London, meninggalkanku berkawan sepi di rumah pohon.
Tapi aku percaya kau akan kembali. Tanpa kuduga hari
itu datang, kau masih embun yang utuh untukku. Hanya kau yang mampu menyentuh
kalbuku dengan racikan masakanmu serta seulas senyum pengertian.
Hari-hari Lara sempat hampa sejak Abe pindah ke
London lima tahun yang lalu.Sampai akhirnya pagi itu tiba-tiba Abe sudah
berdiri di depan rumah Lara. Semua impian lara kini akan menjadi nyata. Walau
dia menyadari keluarganya tak menyukai hubungannya dengan Abe. Belum lagi
papanya yang sudah menjodohkan Lara dengan Abe.
Lara punya banyak rahasia agar hati Abe tak terluka. Tapi
bagaimana jika salah satu rahasia itu akhirnya mengancam hidup Lara untuk
selamanya?
Novel
yang terdiri dari 195 halaman ini habis kulahap dalam sehari. Kebetulan weekend yang memang kupersiapkan khusus
untuk mereview novel ini. Sesuai dengan deskripsi novel, secuil perasan Lara
dan Abe ditunjukkan begitu apik. Lalu bagaimana sebenarnya jalan cerita mereka?
Mengapa ada gambar rumah pohon pada sampul novel?
Novel
Ini mengisahkan perasaan terpendam dua insan muda yang sudah bersahabat sedari
kecil. Tumbuh bersama dalam lingkungan yang sama (Latar ceritanya di Malang
nih), mengetahui tabiat, kebiasaan hingga detil kecil satu sama lain
membuat perasaan cinta itu bersemi di
antara mereka. Spesialnya, ada satu hal yang selalu mempertemukann mereka. Hal
ini juga yang seolah menjadi cupid diam-diam dalam perasaan mereka
masing-masing. Yah, itulah si misterius yang kita bicarakan di awal tadi. Rumah
Pohon.
Andriana
Larasati alias Lara digambarkan sebagai gadis yang cerewet, mandiri dan tegar.
Sahabat kecil Lara, Abe. Nama lengkapnya Abraham wijaya Tyson. Dimulai ketika
mereka menjadi tetangga, lalu teman sepermainan, hingga suatu saat mereka
sepakat mewujudkan mimpi mereka untuk membuat sebuah rumah pohon di halaman
belakang rumah Lara. Ada satu hal menggelitik
tentang rumah pohon ini. Aku sendiri tak bisa lupa ketika mereka
memutuskan untuk menamai si rumah pohon “JONO”. Aku fikir mereka akan menamai
Callista atau Hommie, ternyata malah JONO. Mengapa JONO? Ternyata dinamakan
Jono karena Abe sering mengatakan NO untuk melarang siapapun menaiki rumah
pohon sedangkan Lara sering mengatakan Ojo dalam bahasa jawa yang artinya tidak
dalam bahasa Indonesia.
Sayangnya,
persahabatan mereka kurang disukai oleh Ayah Lara. Meskipun begitu, Lara
bersyukur Ibunya masih menyukai Abe. Namun apa yang disyukuri Lara itu tidak
bertahan lama..
Ibu
Lara meninggal dunia karena penyakit kanker rahim yang dideritanya. Belum
selesai duka yang ditanggung oleh Lara, kesedihan yang dirasakan bertambah
ketika Ayah Lara memutuskan untuk menikah dengan wanita yang kemudian
disebutnya Mama Rika. Masalahnya adalah Mama Rika bukan sosok ibu tiri yang
baik dari awal. Mama Rika berusaha memisahkan lara dengan ayahnya sejauh
mungkin. Meskipun ayahnya menginginkan Lara untuk ikut tinggal di rumah baru
mereka, Lara memilih untuk tinggal di rumah lama Ibunya. Rumah yang berisikan
jutaan memori yang tak bisa binasa. Memori tentan masa kecilnya, Ibunya dan
tentu saja Abe.
Selain
itu, ada hal menjengkelkan setiap Lara
sesekali menginap di rumah baru ayahnya yaitu adik manja yang lahir dari rahim
ibu tirinya itu. Belum lagi sikap Mama Rika yang sengaja memanjakan adik tiri
Lara dan menyuruh Lara menuruti segala permintaannya. Lucunya, Lara memilih
hanya memaki adik tirinya dalam hati dengan sebutan babi karena kebiasaan
makannya yang super rakus dan tentu saja tubuh tambunnya haha. Lara sabar
banget deh salut! sBiasanya udah ada adegan jambak menjambak atau
lempar-lemparan sapu kan? Hehe
Kesedihan yang dialami oleh Lara mencapai puncaknya
ketika Abe sekeluarga memutuskan untuk pindah ke London karena pekerjaan
ayahnya. Saat itulah, Lara merasakan kehilangan terbesar dalam hidupnya. Ibu
kandungnya, Ayahnya, hingga Abe meninggalkan dirinya sendiri berteman sepi.
Hanya rumah pohon yang setia tinggal menemani harinya. Semuanya berlalu begitu
cepat. Lara kini menjadi seorang wanita karier yang sukses. Ia bekerja di salah
satu perusahaan yang cukup besar. Bagaimana bisa kita tidak menganggapnya
mandiri dan tegar?
“Sebenarnya cerita ini dibuat twist yang super seru oleh penulis, Kalo
aku ceritanya gak seru maaf saja ya! Makanya
kalian harus baca novel ini supaya bisa ngerasain sensasinya, okay?”
Secara tiba-tiba,
seseorang yang dirindukan Lara hadir di depan matanya. Bagaikan hadiah dadakan
dari Tuhan. Kalian tau apa?
Abe kembali.
Abe yang sudah mulai
dewasa serta penggambaran jelas tentang fisiknya yang ganteng dan makin oke.
Duh, bikin ikut jatuh cinta.
Apa
yang membuat aku super kaget adalah Lara berusia 23 tahun sedangkan Abe masih
19 tahun guys! Wow, aku fikir mereka seumuran hehe. Lara diceritakan sudah
bekerja sementara Abe masih akan melanjutkan studi ke Universitas. But still, it’s sweet!
Setelah
Abe kembali dari Londin, hari-hari Lara kembali berwarna. Abe menjadi tempatnya
bersandar dan melepas lelah. Perhatian Abe yang dirindukan Lara sekian lama
dapat direngkuhnya kembali. Masakan Abe yang super nikmat (Secara Abe calon
koki sekaligus anak koki) melengkapi hari Lara yang biasanya berteman mie
instan dan bon cabe. Eeits.. maksudnya makanan instan. Catet ya, Lara Cuma bisa
masak air.
Lega
ya?Jangan dulu. Ini baru awal cerita sebenarnya..
Dari sekian kebahagian
bertubi yang diperolehnya setelah kemunculan Abe, banyak pula kesedihan yang
mengganjar hidupnya. Namun Ia Lara, wanita tegar yang sudah mengecap pahit
hidup sejak kecil. Ia pasti bisa melalui semuanya.
Tak
lama setelah itu, Lara dikejutkan dengan berita pernikahan pacarnya dengan
sahabatnya sendiri. Pacarnya yang mengaku sudah memutuskan Lara lewat sms membuat Lara cukup terpukul. Masalahnya, sms
itu sama sekali tak pernah diterimanya karena terkirim ke nomer di hp Lara yang
hilang. Alhasil, Lara merasa patah. Namun tak dapat dipungkiri, perasaan yang
sekadar pelarian pada calon suami sahabtnya itu sedikit membuatnya merasa
bersalah. Yah, hubungan itu hanyalah pelarian dari cinta tak tersampai Lara
pada Abe. Mengharu biru.
Ketika
Lara akan menghadiri pernikahan
sahabatnya itu, terjadi insiden yang mempertemukannya dengan seorang lelaki
tampan. Ia adalah manager hotel tempat pernikahan itu berlangsung. Lelaki baik,
sopan, tampan, kaya. Meski sempat dekat dengan lelaki bernama Galih itu, tetapi
perasaan Lara tetap untuk abe seorang.
Namun
semuanya berbeda, setelah perjodohan itu
kembali menyeret perasaan Lara..
Ayah
Lara menjodohkan Lara dengan putera sahabatnya. Namun Lara bersikeras menolak
perjodohan itu hingga muncul ide aneh untuk berpura-pura sedang dalam hubungan
dengan laki-laki lain. Parahnya, Lara mengenalkan laki-laki itu dalam situasi
darurat (Biasalah Ayahnya maksa Lara gitu) kepada ayahnya dan Mama Rika. Begitu
pula Galih yang meminta Llara juga berpura-pura menjadi kekasihnya untuk
menghindari perjodohan yang direncanakan orang tuanya. Unfortunately, ternyata
Lara dan Galih sebenarnya adalah kedua insan dalam satu perjodohan yang
dirancang kedua orang tua mereka. Ini membuat situasi menjadi kacau sampai
pertemuan keluarga yang membahas mengenai pernikahan mereka. Lalu, bagaimana
dengan Abe?
Belum
selesai masalah ini, Lara kembali dirundung pilu. Hasil tes kesehatan
menyatakan bahwa Ia positif mengidap kanker payudara stadium II. Shock yang
dialaminya membuat kesehatan Lara semakin memburuk. Belum lagi Ia tak bisa
menceritakan penyakit yang dideritanya kepada siapapun, hanya Dokter yang terus
mengingatkan Lara untuk melakukan operasi. Lara semakin sedih ketika Ia
mengingat mendiang Ibunya. Seandainya beliau masih hidup, mungkin Lara tak akan
sesedih ini.
Suatu ketika, Lara pingsan dan ditolong oleh Galih. Namun
saat itu, Abe yang sedang bersama Lara juga pingsan. Hal mengejutkan ternyata
dokter yang menangani Lara adalah kakak kandung Galih sehingga Galih mengetahui
penyakit Lara sejak itu. Begitu pula dengan ayah Lara yang tak kalah terpukul.
Penyesalan Ayah Lara begitu besar, mengingat betapa tidak pedulinya Ia dengan
Lara yang hidup sendiri. Sebelumnya Lara tak diberitahu Abe bahwa Ayah Abe sudah meninggal karena kanker otak sebelum Abe dan Ibunya kembali ke Indonesia. Ibu Abe sepertinya sudah merasakan penyakit yang diderita Abe sebelumnya. Namun kenyataan bahwa Abe menderita penyakit Creutzfeldt-Jakob atau penyakit Prion yang belum ditemukan pengobatannya menyayat dalam-dalam hati Ibu Abe. Tentu saja, Ibu mana yang tak sedih melihat buah hatinya sakit.
Semua kesedihan makin
menjadi di titik ini.. Bagaimana kelanjutan kisah Abe dan Lara?
Lara
adalah aku. Perasaan yang tergambar jelas membuatku tenggelam dalam ilusi
sebagai Lara. Kebahagiaan dan kesedihan yang dirasakan Lara seolah turut
kurasakan. Belum lagi ending yang tak terduga. Tak banyak buku yang memberi sad ending namun sangat pas seperti ini.
That’s why I called this book is amazing!
Bahasa yang digunakan oleh penulis cukup santai dan umum.
Plot yang sangat menarik menurutku menjadi poin utama dan plus plus. Ide
ceritanya juga segar dan menarik. Menurutku kata puitisnya mesti ditambah nih
hehe. Maklum aku penyuka novel yang banyak kata-kata puitis gitu. Kalo kalian
ada saran bisa comment dibawah ya.
“Kau, Pagi yang membuatku
candu..”
-Lara


Tidak ada komentar:
Posting Komentar