Sabtu, 11 November 2017

Review “The Architecture of Love” by Ika Natassa


Credit to prelo.co.id



Credit to steller.co




After a long long hiatus, gue balik dengan sebuah review Novel karya Mbak Ika Natassa (Ig @Ikanatassa).  Fyi sebelum  The Architecture of Love menghipnotis dunia kepenulisan, Mbak Ika sudah menelurkan karya-karya yang gak pernah absen dari daftar Best Seller Novel Indonesia. A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Twivortiare, Antologi Rasa dan yang terbaru Critical Eleven. Ah, Critical Eleven.

The  Architecture of Love by Ika Natassa:
New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron’s You’ve Got Mail hingga Martin Scorsese’s Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai “karakter” yang menghidupkan cerita.Ke Kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak menggoreskan satu kalimat pun.Raia menjadikan  setiap sudut New York kantor”nya. Berjalan kaki menelusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang ynag berpapasan dengannya, dalam percakapan yang ia dengar, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga.

Novel  The  Architecture of Love  adalah novel yang paling gue tunggu filmya. Novel pertama yang penuh dengan lovable quotes, bikin wajib didampingi notebook pas bacanya. You should know that The  Architecture of Love is the most romantic novel without some cheesy and boring conversation. Berlatar di Kota New York, Novel ini bakal bikin lo seolah lagi travelling keliling New York. Seriously, sesuai judulnya, dari awal hingga akhir cerita bakal menyuguhkan romansa bangunan-bangunan artistik Kota New York sekaligus kisah pertemuan dua tokoh cerita yang sukses bikin terbayang-bayang. It’s not a romantic love story that full of kissing or another level of skinship but warm and meaningful conversation about Raia Risjad and River jusuf.

            Novel ini mengisahkan seorang Raia Risjad, penulis Novel Best Seller Indonesia yang melakukan pelarian ke Kota New York untuk mengakhiri writer’s block yang dialaminya setelah kehilangan muse. Jadi Writer’s block itu keadaan dimana seorang penulis itu stuck ga punya ide dan seolah ga bisa nulis lagi, it’s almost over gitu. Sementara muse itu inspirator, orang yang menginspirasi kita dalam menulis. Nah muse Raia adalah mantan suaminya yang sangat dicinta. Di New York, Raia bersama sahabatnya Erin, sudah melakukan berbagai hal untuk menumpas writer’s block yang seolah pembunuh yang membawa masa kritis bagi seorang penulis. But still stay. Bayangkan Raia diberondong pertanyaan “Kapan buku lo terbit lagi?” tiap harinya sementara gak ada yang tau sakitnya didera writer’s block.

“Maybe that’s how she knows how much she loves writing. But even the things that we love can make us feel miserable, right?” (The Architeture of Love, P-17)

            Dari awal, gue udah suka banget pas bagian Raia bernarasi tentang gimana dia gak suka dengan perayaan tahun baru yang seolah akan menjadi lembar baru dalam hidup mereka. Larut dalam pesta semalam suntuk namun nyatanya keesokan harinya lembar baru itu hanya berakhir sebagai omong kosong. Karakter Raia yang cerdas dan berpendirian bahkan bisa tergambar dari narasi maupun dialognya.

  “Calendar does not decide when you’re going to change your life for the better. You did.” (The Architeture of Love, P-15)

            Namun di pesta perayaan tahun baru pula, Raia bertemu dengan sosok lelaki misterius di sebuah pesta tahun baru bernama River. Raia dan Erin datang ke pesta tahun baru di apartemen Aga, temannya Erin. Thanks to Erin yang udah maksa Raia buat datang ke pesta hehe. River, dari namanya aja udah terkesan cool dan misterius gitu kan?

            “River. The coolest name she has ever heard. And the coolest guy she has ever met.” (The Architeture of Love, P-35)

            River, sosok misterius yang selalu memakai sneakers cokelat, beanie abu-abu dan kaus kaki hijau dengan sketchbook dan pensil terselip di antara jemarinya. Menggambar seolah hidupnya dan ketenangan adalah dunianya. Sama seperti Raia yang lebih memilih menarik diri dari keriuhan pesta. Pertemuan mereka singkat, tapi sukses bikin deg-degan. Satu fakta mengejutkan kalau Aga, lelaki yang juga tertarik dengan Raia adalah adik River.

            Pertemuan kedua mereka seolah potongan drama Korea terjadi di Wollan skating Rink. Raia dengan notebook dan keinginan mencari inspirasinya, sementara River di seberang sana masih dengan sketchbook dan kegiatan menggambarnya. Mereka bertemu hari itu, esok dan hari-hari selanjutnya. Bayangkan sepasang completely strangers yang bahkan gak tau nama belakang masing-masing, janjian tiap jam Sembilan pagi untuk berkeliling Kota New York. Raia sibuk mencari inspirasi menulis dan River asik menggambar bangunan-bangunan di Kota New York.

            Selanjutnya cerita ini banyak menyuguhkan pesona bangunan New York dan segala sesuatu tentangnya mulai dari kebiasaan New Yorker hingga makanan terenak di New York, seriously it makes me deeply in love with New York. Mereka mengobrol dan menghabiskan waktu bersama setiap hari. Menjelajahi Kota New York seperti Whispering Gallery Grand central, Flatiron Building, dan Paley Park. Menikmati luar biasanya burger Shake Shack hingga pergi ke bioskop hanya untuk membeli pop corn.Obrolan mereka selalu tentang bangunan New York, tak pernah tentang kehidupan mereka. But it always warm and romantic for me.

River mengenalkan Kota New York dengan cara yang berbeda, bahwa setiap bangunan memiliki cerita, bukan hanya sekadar benda mati ynag bisa diamati. Dari sanalah Raia menemukan semangatnya dalam menjemput inspirasi dalam menulis.

            “Writing is one of the loneliest professions in the world. Ketika sedang menulis, hanya ada sang penulis dengan kertas atau meisn tik atau laptop di depannya, hubungan yang tak pernah menerima orang ketiga.”

“Architecture is sort of a combination of love, mind, and reason. Arsitektur bukan sekadar tentang matematika, seni dan konstruksi. Arsitektur juga perkara perasaan. Bagi River, keberhasilannya tidak dinilai dari desain dan estetika bangunan. A structure also has to invoke a certain kind of feeling.”

Seorang penulis yang mampu membuat orang hanyut dalam kata-katanya dan seorang arsitek yang selalu membuat orang terkagum-kagum dengan desain gambarnya. I hope that I’ll meet an architect like River someday.

            Satu hal yang sama dari mereka: New York adalah pelarian. Mereka lari dari kenyataan pahit yang ingin mereka lupakan dalam hiruk pikuk Kota New York yang tak pernah tidur itu. Mengenyahkan kelam yang meraung di antaranya bising malam. 
  “Every person has at least one secret that will break your heart.”(The Architeture of Love, P-66)
Konflik ceritanya sebenernya umum: Pelarian dari rasa bersalah yang terus membayangi. Namun pertemuan Raia, River dan New York seolah menjadi satu candu yang memiliki pesonanya sendiri.  Dan… fate. Di cerita ini, kita akan percaya bagaimana takdir akan mempertemukan kita dengan dia, seolah semesta ikut merestui. Sejauh apapun jarak yang terbentang, sebesar apapun ketidakmungkinan yang membatasi mimpi dan kenyataan.
“Out of all places and he’s here?”

Keren banget pas Raia dan River dipertemukan kembali setelah sempat berpisah. Dialog mereka pun diciptakan penulis secara simple but romantic as always. 

Penulis menulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, dan gue jujur suka banget. Walaupun mungkin ada pembaca yang biasanya protes karena tidak disertakan translate ke Bahasa Indonesianya. Sudut pandang yang dipilih penulis adalah sudut pandang orang ketiga di awal cerita kemudian sisanya sudut pandang orang pertama. Uniknya dari ini, kita bisa tau bagaimana sudut pandang Raia dan River terhadap kehidupannya. Penulis Ika Natassa gak perlu diragukan lagi soal ceritanya yang luar biasa. Banyak kejutan yang dihadirkan Mbak Ika di tiap chapternya, dengan kata-kata yang menyentuh tentunya. Ciri khas Mbak Ika yang selalu bikin terpukau adalah detail tokoh dan setting cerita yang menambah wawasan baru. Seolah ikut terbang ke New York, gitu. Apalagi tokoh River yang langsung bikin jatuh cinta dan gagal move on sampe sekarang, hehe. Ditambah sketsa bangunan yang disertakan di tiap chapter menambah kedalaman cerita. I really love this book.

Berhubung Critical Eleven sudah difilmkan, tinggal kita tunggu kapan The Architecture of Love tayang di Bioskop tercinta. Hasil ngepoin Ig Mbak Ika Natassa nih, The Architecture of Love ini bakal di filmin, yey. Btw nih gue punya pemikiran hasil diskusi kecil-kecilan tentang tokoh yang kira-kira cocok buat meranin Raia dan River. Siapakah dia?


Tada



            Putri Marino as Raia Risjad.


Raia Risjad versiku


Bayangin Raia, lagi di cafe nyari inspirasi buat nulis but still stuck and her expression like



 Pemeran Utama Film Posesif (2017) dan pernah jadi presenter My Trip My Adventure. Si manis yang hobi travelling ini langsung bikin aku keinget sama karakter Raia.







            Nicholas Saputra as River Jusuf.

 
River Jusuf versiku


Bayangin River, lagi keliling New York buat gambar bangunan artistik and his expression like 


Pemeran AADC yang fenomenal, pasti pada taulah. Ganteng dan punya sisi misterius  yang pas banget sama karakter River.








Siapa Raia dan River versi kalian? :) 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar