Jumat, 11 Agustus 2017

Cening ; Cerita Perjalanan Puteri Bali

Hai laskar pemimpi, masih sejauh mana jarak dirimu dengan mimpi besar di pertengahan Agustus yang penuh dengan romansa kemerdekaan ini?

Para Cening


            Post berlabel story pertama ini sebenarnya adalah hasil tulisan semalam menjelang deadline kompetisi menulis cerita perjalan yang diselenggarakan UKM Kepenulisan Universitas Negeri Malang which is tempat gue menimba ilmu. Kebetulan UKM bersejarah ini juga jadi tempat memacu semangat menulis yang sering kendor hehe.

            Tulisan ini gak lolos yagitu, abis buatnya sistim kebut semalam. Mau gimana lagi? Tugas kuliah harus diutamakan coy. Alasan banget kan ya, hehe.

            Namanya juga gak ada rencana masukin blog pada awalnya, jadi dokumentasi wisata alamnya minim. Yaudah, dibaca aja ya.

Let’s get started

Cening

Cening puteri ayu Ngijeng Cening jumah
Meme luas malu Ke peken meb’lanje
Siapa yang tak mengenal lagu ini?


            Cening Puteri Ayu. Lagu bertemakan kasih sayang untuk puteri-puteri Bali. Dialog seorang Ibu dan puterinya. Sang Ibu meminta puterinya untuk berdiam diri di rumah karena sang ibu hendak pergi ke pasar. Lagu daerah asal Bali inilah yang selalu mengingatkan kami pada jutaan memori kampung halaman.

            Mari berkenalan dahulu.

Kami bertiga adalah anak perantauan di Malang, aku adalah salah satunya. Anak rantau yang selalu rindu kampung halaman, paparan keindahan pulau kecil nan tropis Indonesia. Pulau Dewata kata orang. 

            Satu hari di Bulan Juli yang cukup hangat. Masih musim liburan masa bahagianya para mahasiswi perantauan katanya. Para cening sudah merindu bersenda gurau dan melancong bersama seperti dulu. Jadilah kami menyusun rencana bersama. Mengeksekusi alam bisa jadi tema yang pas.

            Sang fajar mulai meninggi disambut hembus angin yang cukup keras. Perjalanan kami pun dimulai. Iya kami, tiga orang perantauan tadi dan seorang lagi sahabat kami. Menggunakan sepeda motor, para cening melintasi jalan raya utama yang tak begitu ramai. Maklum jalan raya di pedesaan tak sama dengan jalan raya di perkotaan pada umumnya. Tak ditemukan rambu lalu lintas meski banyak terdapat pertigaan atau perempatan yang cukup berbahaya.

            Kami menyisir jalanan yang masih penuh pepohonan di tepinya. Berbagai macam jenis pepohonan meramaikan lahan-lahan kosong yang masih asri dan belum tersentuh penebang liar, bahkan lahan tersebut tak dipagari namun terlihat terawat. Tak ayal suasana sejuk dan udara yang segar dapat kami hirup bebas selama perjalanan.

            Dibutuhkan tenaga cukup untuk sampai ke tujuan wisata pertama kami. Medan yang penuh lubang dan bebatuan menyebabkan ban bisa saja terselip. Debu jalanan juga menghambat penglihatan, begitu pula nafas yang tersengal karena udara kotor yang tak sengaja terhirup.

            Sepuluh menit kami melewati medan sulit, akhirnya kami sampai di tempat perhentian pertama. Disambut indahnya pemandangan bak lukisan hidup. Perairan yang masih tak terjamah limbah, udara yang murni tak berpolusi.

             White sandy beach atau dikenal sebagai pantai pasir putih yang berlokasi di Bali utara ini benar-benar menunjukkan keindahan maritim nusantara. Tak kalah dengan apiknya Pantai Kuta, white Sandy Beach disini menawarkan suasana berbeda. Ketenangan dan keindahan seolah menyatu di bawah payung langit yang biru berawan. Luar biasanya lagi, air laut yang menampilkan gradasi alam nan ciamik turut memanjakan mata. Biru muda dan biru tua seolah melukis pesisir pantai berpasir putih ini.

            Tentu saja para cening tak pernah lupa untuk mengabadikan keindahan wisata bahari beserta momen kebersamaan kami. Tiap kali melihat hasil jepretan, kami ternganga saking bahagianya. Pesona alam yang menakjubkan tertangkap lensa kamera kami.


Ulfa, Cening berkaca mata yang ceria. Vivi, Cening berkerudung pink yang imut menggemaskan. Febi, Cening merah yang manisnya pas-pasan. Kiki, Cening yang paling anggun. 



            “It’s perfect!”

            Para cening rela membiarkan terik matahari menyentuh kulit yang sudah bisa dikatakan eksotis ini. Keindahan yang memakan rasa lelah hingga tak bersisa, bahkan remahannya pun bagai hilang begitu saja. Tak heran jika tempat seindah ini menjadi tempat melancong pilihan turis lokal maupun mancanegara. Namun masih terjamin ketenangan disini, jauh dari suasana ramai karenajejalan wisatawan yang biasanya mudah ditemui di tempat wisata lain.

            “Healing time.”

            Seolah tak cukup hanya sampai di tengah pesisir pantai, kami pun memutuskan untuk menjajal keindahannya sampai habis di ujung sana. Selama berjalan menjejak pasir putih nan cantik, pandangan kami tak pernah lepas menyoroti ujung hingga ujung sambil menikmati detil keindahan yang terpampang nyata di hadapan.

            Pepohonan bakau di seberang pantai begitu hijau dan menyegarkan mata. Bebatuan di sisi yang lain pun menggoda para cening untuk mengambil banyak foto. Ah, masih saja tak cukup menikmati alam ciptaan Tuhan yang maha kuasa ini.



            “Keindahan yang tak patut sia-sia tanpa diabadikan.”

            Banyak saung yang kini dibangun megah di dekat pesisir pantai, tempat ternyaman untuk bermanja-manja dengan keindahan pantai pasir putih disini. Beberapa wahana air juga tampak disewakan oleh warga sekitar. Sayang, kami harus mengakhiri momen manis untuk melanjutkan ke tujuan kedua kami.

            Tak membutuhkan waktu lama, kami pun sampai di lokasi wisata kedua. Kali ini jalanan mulus beraspal membuat waktu tempuh hanya lima sampai sepuluh menit dari jalan raya utama. Disambut gapura khas bali dan tentunya pepohonan dan anak tangga yang tersusun menjulang.

“Sekali kau melihatnya, seolah ribuan anak tangga ini akan mengantar kita menuju istana langit. Tak sabar rasanya menatap bumi dari atas.”

Ratusan anak tangga mengukir bukit hijau yang membentang di Desa Pemuteran, Bali utara dikenal sebagai wisata Pura Batu Kursi. Anak tangga seperti pada umumnya seolah menjadi karpet merah menuju istana langit. Setiap menaiki anak tangga, kami terpukau dengan suguhan alam hijau yang membentang luas di hadapan. Pepohonan rimbun, rumah dan jalanan yang tampak kecil dari atas member sensasi luar biasa kerennya.

Tak berhenti sampai disana ketakjuban kami, semakin ke atas ternyata bentang keindahan ala mini makin patut disyukuri adanya. Bukit yang tampak saling merengkuh satu sama lain tampak begitu hijau. Bebatuan alam yang besar juga masih tampak tak tersentuh.

Jangan ditanya lagi udara segar yang membuat kami betah berlama-lama di atas sana. Pura batu kusi ini memang sangat cocok bagi mereka yang hobi menjelajah alam maupun pecinta fotografi. Sudah bisa ditebak, minat wisatawan untuk mengunjungi tempat apik ini cukup besar sehingga tiap harinya Pura Batu Kursi tak pernah sepi pengunjung.

Rasa lelah sudah pasti terasa, bahkan beberapa kali para cening hampir menyerah di perjalanan. Namun seketika kami berbalik dan disodori keindahan yang luar biasa, rasanya tak puas jika belum sampai ke puncak yang disebut Batu Kursi.

“Kita pasti bisa sampai ke puncak, di tempat tertancapnya bendera merah putih itu.”

Saling menyemangati dan tak lupa mengabadikan momen menjadi penabuh semangat untuk terus meniti anak tangga hingga ke puncaknya. Sambil memandangi sekeliling, hamparan perbukitan semakin tampak nyata dari atas. Tak sabar menggapai puncaknya, langkah kaki kami mempercepat hitungannya.

Beberapa saat kemudian, kami mencapai lereng menuju puncak Batu kursi. Setapak berpagar besi menjadi satu-satunya jalan yang bisa kami lalui. Kami pun masih harus mendaki sedikit bebatuan yang cukup licin, banyak serpihan batu yang tergelincir ke bawah menambah rasa ngeri. Belum lagi ketika kami melihat ke bawah, jurang-jurang tampak menganga siap melahap.

Hanya butuh beberapa saat, melawan rasa takut dan lelah tentunya. Para cening sudah berada di atas puncak Batu Kursi. Rasanya setelah melewati ratusan anak tangga sambil melawan rasa lelah benar-benar luar biasa. Puas menikmati pemandangan alam dari atas, kami pun enggan mengakhiri pelukan bukit kursi yang menyandu perasaan.



Almost touch the sky









Beautiful Landscape.





Akhirnya, senja pun usai dengan para cening yang mulai turun menghitung balik anak tangga. Hari sudah mulai meredup, terik berganti remang menjelang malam. Tandanya perpisahan para cening penjelajah alam hari ini.


“Kami sangat bersyukur bisa menenggelamkan diri dengan cantiknya alam hari ini, juga untuk pelukan hangat bukit kursi nan hijau. Semoga Para cening bisa kembali menyoroti wisata alam lagi.”



Senang berbagi cerita denganmu. Salam manis para Cening Bali.
           








Tidak ada komentar:

Posting Komentar