Hai
laskar pemimpi, masih sejauh mana jarak dirimu dengan mimpi besar di
pertengahan Agustus yang penuh dengan romansa kemerdekaan ini?
![]() |
| Para Cening |
Post berlabel story pertama ini
sebenarnya adalah hasil tulisan semalam menjelang deadline kompetisi menulis
cerita perjalan yang diselenggarakan UKM Kepenulisan Universitas Negeri Malang
which is tempat gue menimba ilmu. Kebetulan UKM bersejarah ini juga jadi tempat
memacu semangat menulis yang sering kendor hehe.
Tulisan ini gak lolos yagitu, abis
buatnya sistim kebut semalam. Mau gimana lagi? Tugas kuliah harus diutamakan
coy. Alasan banget kan ya, hehe.
Namanya juga gak ada rencana masukin
blog pada awalnya, jadi dokumentasi wisata alamnya minim. Yaudah, dibaca aja
ya.
Let’s
get started
Cening
Cening puteri ayu
Ngijeng Cening jumah
Meme luas malu Ke peken meb’lanje
Meme luas malu Ke peken meb’lanje
Siapa yang tak
mengenal lagu ini?
Cening Puteri Ayu. Lagu bertemakan kasih sayang untuk
puteri-puteri Bali. Dialog seorang Ibu dan puterinya. Sang Ibu meminta
puterinya untuk berdiam diri di rumah karena sang ibu hendak pergi ke pasar.
Lagu daerah asal Bali inilah yang selalu mengingatkan kami pada jutaan memori
kampung halaman.
Mari berkenalan dahulu.
Kami bertiga adalah anak perantauan di Malang, aku adalah salah
satunya. Anak rantau yang selalu rindu kampung halaman, paparan keindahan pulau
kecil nan tropis Indonesia. Pulau Dewata kata orang.
Satu hari di Bulan Juli yang cukup
hangat. Masih musim liburan masa bahagianya para mahasiswi perantauan katanya. Para
cening sudah merindu bersenda gurau dan melancong bersama seperti dulu. Jadilah
kami menyusun rencana bersama. Mengeksekusi alam bisa jadi tema yang pas.
Sang fajar mulai meninggi disambut
hembus angin yang cukup keras. Perjalanan kami pun dimulai. Iya kami, tiga
orang perantauan tadi dan seorang lagi sahabat kami. Menggunakan sepeda motor,
para cening melintasi jalan raya utama yang tak begitu ramai. Maklum jalan raya
di pedesaan tak sama dengan jalan raya di perkotaan pada umumnya. Tak ditemukan
rambu lalu lintas meski banyak terdapat pertigaan atau perempatan yang cukup
berbahaya.
Kami menyisir jalanan yang masih
penuh pepohonan di tepinya. Berbagai macam jenis pepohonan meramaikan
lahan-lahan kosong yang masih asri dan belum tersentuh penebang liar, bahkan
lahan tersebut tak dipagari namun terlihat terawat. Tak ayal suasana sejuk dan
udara yang segar dapat kami hirup bebas selama perjalanan.
Dibutuhkan tenaga cukup untuk sampai
ke tujuan wisata pertama kami. Medan yang penuh lubang dan bebatuan menyebabkan
ban bisa saja terselip. Debu jalanan juga menghambat penglihatan, begitu pula
nafas yang tersengal karena udara kotor yang tak sengaja terhirup.
Sepuluh menit kami melewati medan
sulit, akhirnya kami sampai di tempat perhentian pertama. Disambut indahnya
pemandangan bak lukisan hidup. Perairan yang masih tak terjamah limbah, udara
yang murni tak berpolusi.
White sandy beach atau dikenal sebagai pantai
pasir putih yang berlokasi di Bali utara ini benar-benar menunjukkan keindahan
maritim nusantara. Tak kalah dengan apiknya Pantai Kuta, white Sandy Beach
disini menawarkan suasana berbeda. Ketenangan dan keindahan seolah menyatu di
bawah payung langit yang biru berawan. Luar biasanya lagi, air laut yang
menampilkan gradasi alam nan ciamik turut memanjakan mata. Biru muda dan biru
tua seolah melukis pesisir pantai berpasir putih ini.
Tentu saja para cening tak pernah
lupa untuk mengabadikan keindahan wisata bahari beserta momen kebersamaan kami.
Tiap kali melihat hasil jepretan, kami ternganga saking bahagianya. Pesona alam
yang menakjubkan tertangkap lensa kamera kami.
![]() |
Ulfa,
Cening berkaca mata yang ceria. Vivi, Cening berkerudung pink yang imut
menggemaskan. Febi, Cening merah yang manisnya pas-pasan. Kiki, Cening yang
paling anggun.
|
“It’s
perfect!”
Para cening rela membiarkan terik
matahari menyentuh kulit yang sudah bisa dikatakan eksotis ini. Keindahan yang
memakan rasa lelah hingga tak bersisa, bahkan remahannya pun bagai hilang
begitu saja. Tak heran jika tempat seindah ini menjadi tempat melancong pilihan
turis lokal maupun mancanegara. Namun masih terjamin ketenangan disini, jauh
dari suasana ramai karenajejalan wisatawan yang biasanya mudah ditemui di
tempat wisata lain.
“Healing
time.”
Seolah tak cukup hanya sampai di
tengah pesisir pantai, kami pun memutuskan untuk menjajal keindahannya sampai
habis di ujung sana. Selama berjalan menjejak pasir putih nan cantik, pandangan
kami tak pernah lepas menyoroti ujung hingga ujung sambil menikmati detil
keindahan yang terpampang nyata di hadapan.
Pepohonan bakau di seberang pantai
begitu hijau dan menyegarkan mata. Bebatuan di sisi yang lain pun menggoda para
cening untuk mengambil banyak foto. Ah, masih saja tak cukup menikmati alam
ciptaan Tuhan yang maha kuasa ini.
“Keindahan
yang tak patut sia-sia tanpa diabadikan.”
Banyak saung yang kini dibangun
megah di dekat pesisir pantai, tempat ternyaman untuk bermanja-manja dengan
keindahan pantai pasir putih disini. Beberapa wahana air juga tampak disewakan
oleh warga sekitar. Sayang, kami harus mengakhiri momen manis untuk melanjutkan
ke tujuan kedua kami.
Tak membutuhkan waktu lama, kami pun
sampai di lokasi wisata kedua. Kali ini jalanan mulus beraspal membuat waktu
tempuh hanya lima sampai sepuluh menit dari jalan raya utama. Disambut gapura
khas bali dan tentunya pepohonan dan anak tangga yang tersusun menjulang.
“Sekali kau melihatnya, seolah ribuan anak tangga ini akan
mengantar kita menuju istana langit. Tak sabar rasanya menatap bumi dari atas.”
Ratusan anak tangga mengukir bukit hijau yang membentang di
Desa Pemuteran, Bali utara dikenal sebagai wisata Pura Batu Kursi. Anak tangga
seperti pada umumnya seolah menjadi karpet merah menuju istana langit. Setiap
menaiki anak tangga, kami terpukau dengan suguhan alam hijau yang membentang
luas di hadapan. Pepohonan rimbun, rumah dan jalanan yang tampak kecil dari
atas member sensasi luar biasa kerennya.
Tak berhenti sampai disana ketakjuban kami, semakin ke atas
ternyata bentang keindahan ala mini makin patut disyukuri adanya. Bukit yang
tampak saling merengkuh satu sama lain tampak begitu hijau. Bebatuan alam yang
besar juga masih tampak tak tersentuh.
Jangan ditanya lagi udara segar yang membuat kami betah
berlama-lama di atas sana. Pura batu kusi ini memang sangat cocok bagi mereka
yang hobi menjelajah alam maupun pecinta fotografi. Sudah bisa ditebak, minat
wisatawan untuk mengunjungi tempat apik ini cukup besar sehingga tiap harinya
Pura Batu Kursi tak pernah sepi pengunjung.
Rasa lelah sudah pasti terasa, bahkan beberapa kali para
cening hampir menyerah di perjalanan. Namun seketika kami berbalik dan disodori
keindahan yang luar biasa, rasanya tak puas jika belum sampai ke puncak yang
disebut Batu Kursi.
“Kita pasti bisa sampai ke puncak, di
tempat tertancapnya bendera merah putih itu.”
Saling menyemangati dan tak lupa mengabadikan momen menjadi
penabuh semangat untuk terus meniti anak tangga hingga ke puncaknya. Sambil
memandangi sekeliling, hamparan perbukitan semakin tampak nyata dari atas. Tak
sabar menggapai puncaknya, langkah kaki kami mempercepat hitungannya.
Beberapa saat kemudian, kami mencapai lereng menuju puncak
Batu kursi. Setapak berpagar besi menjadi satu-satunya jalan yang bisa kami
lalui. Kami pun masih harus mendaki sedikit bebatuan yang cukup licin, banyak
serpihan batu yang tergelincir ke bawah menambah rasa ngeri. Belum lagi ketika
kami melihat ke bawah, jurang-jurang tampak menganga siap melahap.
Hanya butuh beberapa saat, melawan rasa takut dan lelah
tentunya. Para cening sudah berada di atas puncak Batu Kursi. Rasanya setelah
melewati ratusan anak tangga sambil melawan rasa lelah benar-benar luar biasa.
Puas menikmati pemandangan alam dari atas, kami pun enggan mengakhiri pelukan
bukit kursi yang menyandu perasaan.
![]() |
| Almost touch the sky |
![]() |
| Beautiful Landscape. |
Akhirnya, senja pun usai dengan para cening yang mulai turun
menghitung balik anak tangga. Hari sudah mulai meredup, terik berganti remang
menjelang malam. Tandanya perpisahan para cening penjelajah alam hari ini.
“Kami sangat bersyukur bisa
menenggelamkan diri dengan cantiknya alam hari ini, juga untuk pelukan hangat
bukit kursi nan hijau. Semoga Para cening bisa kembali menyoroti wisata alam
lagi.”
Senang berbagi cerita denganmu. Salam
manis para Cening Bali.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar