![]() |
| Source : Pinterest |
Gue jenuh sama yang
namanya social media, that's why I ditched social media and never
looked back.
Istilah social media detox ini sebenernya udah viral beberapa
tahun belakangan. Yaps, tepatnya ketika social media addiction makin
merajalela. Entah remaja, orang tua sampe bocah di bawah umur menjadi pengguna
setia social media. We know that.
Dan gue sebagai manusia sekaligus salah satu user social media
mulai ngerasa socmed makin membawa impact yang kurang bagus buat gue pribadi.
Padahal social media yang gue ikutin cuman instagram lho, facebook dan twitter
udah off sejak dahulu kala. Tapi kerasa banget negative impact yang gue serap
setelah berjam-jam scrolling instagram di waktu yang gue luang-luangin alias
sengaja males-malesan hehe.
Negative impact apa aja sih yang buat gue mutusin off dari akun
instagram pribadi gue?
1. It becomes addiction
Gue tau penggunaan social media yang baik
justru bisa berbuah baik kaya misalnya penggunaan untuk jualan online (olshop)
yang gue juga lakukan. Namun, addiction ini yang kumaksud buruk. Ketika kontrol
atas penggunaan social media lepas, social media ini bisa jadi racun buat
kehidupan sehari-hari.
We all have 24 hours in a day, tapi dengan kehadiran
social media yang membuat kita addict, bisa-bisa kita cuma punya 12 hours in a
day. Bayangkan kita merelakan banyak waktu yang sebenarnya bisa untuk digunakan
ibadah, olahraga, belajar, baca buku atau sekadar mengobrol sama orang
tercinta.
2. Addict to social media makes us more passive in real life
Jujur deh, berapa kali lo hangout sama temen,
niatnya buat menghabiskan waktu bareng tapi ujungnya foto terus asik upload di
social media masing-masing?
Ironi. Gue flashback satu waktu gue sama temen-temen
meet up di cafe terus asik foto. Ngobrol 5 menit, foto-foto 10 menit, pilih
foto plus upload 15 menit, makan 30 menit, ngobrol 15 menit sambil sibuk
hp an trus pulang. Baru sekarang gue mikir, meet up jenis apa coba yang kaya
gitu?
Rasa peduli makin jarang jadi perhatian. Aktif di
social media sih, tapi pasif di dunia nyata. Buat apa? sosialisasi zaman now
udah pindah dari dunia nyata ke social media. Mungkin 2030 sosialisasi zaman
future bakal pindah ke webtoon.
Percaya deh, kalo satu aja dari kita becomes more
active in real life, contoh pas kita lagi kumpul bareng temen-temen. Yakin
banget, temen-temen kalian pasti ikutan. Sosialisasi social media detox ini
bisa banget kita lakukan lewat obrolan ringan atau postingan blog semacam gue
ini hehe.
Yah, siapa lagi yang mau memviralkan kalau bukan
kita?
3. Social behaviour
People selectively post what they want others to
see. Ini yang bikin munculnya Jealousy behaviour antara sesama pengguna social
media. Lo liat selebgram cakep pake barang branded, lo pingin. Trus
ngebandingin apa yang lo punya dengan apa yang mereka perlihatkan, tanpa mau
berpikir perjuangan apa yang mereka lakukan untuk mencapai semua itu. Bisa jadi
mereka tidur lebih sedikit dan berjuang lebih keras sementara lo asik scrolling
dan jealousy over what they achieve. Konyol kan?
Social media is training us to
compare our lives with others, instead of appreciating what we have. No wonder
why everyone is depressed.
Ketika lo bisa manfaatin waktu scrolling
instagram buat melakukan hal yang lebih berguna buat masa depan, kenapa masih
aja stuck ngeliatin kesuksesan orang lain? Syukur-syukur kalo bisa jadi
motivasi dan boost energy buat melangkah maju. Kalo malah jadi leyeh-leyeh
sampe pagi tanpa progress apa-apa kayak pengalaman gue, buat apa lo pertahanin?
4. Distraction
Ini alasan utama gue mangkir dari dunia socmed.
Walaupun gue udah bertekad fokus ngerjakan sesuatu, kalo udah ngintip socmed
dikit aja, udah deh ambyar semua tekad gigih gue. Apalagi masa skripsi gini,
skripsi mah apa dibanding instagram.
Faktanya: keberadaan socmed adalah distraksi buat hidup dan
skripsi gue.
5. A private life is a happy life
Gue sangat mencintai privasi. Zaman sekarang, manusia kebanyakan lupa sama pentingnya privasi. Ada masalah dikit diumbar, punya apa-apa diumbar, sampe kemesraan rumah tangga pun ikut diumbar. Masya Allah, padahal kebahagiaan itu udah cukup disyukuri dan dinikmati bersama. Padahal ada risk yang harus ditanggung ketika privacy means nothing.
Yuk mulai social media detox buat masa depan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar